Bahagia....
Adalah sesuatu yang dicari setiap orang dimanapun di dunia ini.
#Uang...
Banyak orang dengan sadar atau tak sadar menyangka uang adalah syarat mereka menggapai kebahagiaan, sehingga siang malam bekerja hingga tak sedikit yang mengorbankan waktu istirahat bahkan hari libur demi mendapatkan tambahan uang saat gajian#Kaya
Bahkan sebagian orang merasa kaya adalah syarat dari kebahagiaan. Memiliki apa yang dia inginkan dengan mudah disangka itu jalan meraih bahagia. Namun tak sedikit yang mengorbankan kesehatan dan keluarganya untuk mengejar kekayaan yang diinginkan.#Qonaah....
Ternyata masya Allah, inilah yang menjadi kunci kebahagiaan. Betapa tidak bukankah bahagia itu adanya dalam hati. Ketika hati merasa tenang, tentram tanpa cemas, tanpa gundah, tanpa takut. Bukankah itu yang disebut bahagia. Badan yang sehat, bercengkrama dengan anak dan istri adalah kebahagiaan yang tak terkira.Qonaah adalah merasa cukup dan bersyukur serta berbahagia atas pemberian yang telah Allah berikan. Menikmatinya dengan penuh kesukuran. Tanpa pernah mengharapkan sesuatu yang tak ada.
Jiwa seperti ini yang slalu bahagia baik saat miskin maupun kaya karna sejatinya ia akan merasa selalu kaya dan berkecukupan.
Sementara orang yang tak pernah puas, selalu mengejar kekayaan meski rumah yang megah, kendaraan yang nyaman, saldo rekening yang banyak sudah ia dapatkan, namun ia slalu merasa kurang dan bernafsu untuk mencari yang lebih. Sejatinya orang yang seperti ini adalah orang yang miskin karena slalu merasa kekurangan, tak ada bahagia dalam hidupnya, hartanya hanyalah kesemuan.
Terakhir berikut kutipan hadist tentang qonaah sebagai penutup dan smoga kita menjadi seorang yang slalu berbahagia dengan menanamkan qonaah di hati kita semua.
Semoga bermanfaat
Semoga bermanfaat
Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada Abu Huroiroh
Rodhiyallohu Anhu:
ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﻛﻦ ﻭﺭﻋﺎ ﺗﻜﻦ ﺃﻋﺒﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ،ﻭﻛﻦ ﻗﻨﻌﺎ ﺗﻜﻦ
ﺃﺷﻜﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﺃﺣﺐ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻣﺎ ﺗﺤﺐ ﻟﻨﻔﺴﻚ ﺗﻜﻦ
ﻣﺆﻣﻨﺎ ، ﻭﺃﺣﺴﻦ ﺟﻮﺍﺭ ﻣﻦ ﺟﺎﻭﺭﻙ ﺗﻜﻦ ﻣﺴﻠﻤﺎ، ﻭﺃﻗﻞ
ﺍﻟﻀﺤﻚ ﻓﺈﻥ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻀﺤﻚ ﺗﻤﻴﺖ ﺍﻟﻘﻠﺐ .
“Wahai Abu Huroiroh, jadilah orang yang waro’ niscaya engkau menjadi manusia yang paling beribadah. Jadilah orang yang qona’ah niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang mukmin. Perbaguslah pergaulan dengan tetanggamu niscaya engkau menjadi seorang muslim. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati. ” (HR. Ibnu Majah: 4217,dishohihkan oleh al-Albani dalam as-Shohihah: 930)
Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Bukanlah yang dinamakan kaya dengan banyaknya harta, akan tetapi kaya adalah yang kaya jiwanya. ” (HR. al-Bukhori: 6446, Muslim: 1051)
Imam an-Nawawi Rohimahulloh berkata:
“Makna hadits ini bahwa kaya yang terpuji adalah yang kaya jiwanya, merasa cukup, dan tidak bernafsu terhadap perhiasan dunia. Karena banyak harta akan mendorong semangat untuk terus bernafsu menambah hartanya. Orang yang selalu meminta tambahan adalah orang yang tidak merasa cukup dengan apa yang dimiliki, maka orang yang sepeti ini bukan orang yang kaya. ” ( Syarah Shohih Muslim : 4/3)
Rodhiyallohu Anhu:
ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﻛﻦ ﻭﺭﻋﺎ ﺗﻜﻦ ﺃﻋﺒﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ،ﻭﻛﻦ ﻗﻨﻌﺎ ﺗﻜﻦ
ﺃﺷﻜﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﺃﺣﺐ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻣﺎ ﺗﺤﺐ ﻟﻨﻔﺴﻚ ﺗﻜﻦ
ﻣﺆﻣﻨﺎ ، ﻭﺃﺣﺴﻦ ﺟﻮﺍﺭ ﻣﻦ ﺟﺎﻭﺭﻙ ﺗﻜﻦ ﻣﺴﻠﻤﺎ، ﻭﺃﻗﻞ
ﺍﻟﻀﺤﻚ ﻓﺈﻥ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻀﺤﻚ ﺗﻤﻴﺖ ﺍﻟﻘﻠﺐ .
“Wahai Abu Huroiroh, jadilah orang yang waro’ niscaya engkau menjadi manusia yang paling beribadah. Jadilah orang yang qona’ah niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang mukmin. Perbaguslah pergaulan dengan tetanggamu niscaya engkau menjadi seorang muslim. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati. ” (HR. Ibnu Majah: 4217,dishohihkan oleh al-Albani dalam as-Shohihah: 930)
Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Bukanlah yang dinamakan kaya dengan banyaknya harta, akan tetapi kaya adalah yang kaya jiwanya. ” (HR. al-Bukhori: 6446, Muslim: 1051)
Imam an-Nawawi Rohimahulloh berkata:
“Makna hadits ini bahwa kaya yang terpuji adalah yang kaya jiwanya, merasa cukup, dan tidak bernafsu terhadap perhiasan dunia. Karena banyak harta akan mendorong semangat untuk terus bernafsu menambah hartanya. Orang yang selalu meminta tambahan adalah orang yang tidak merasa cukup dengan apa yang dimiliki, maka orang yang sepeti ini bukan orang yang kaya. ” ( Syarah Shohih Muslim : 4/3)

Tidak ada komentar